Sabtu, 31 Oktober 2015

Ketika Konsumen Bersuara: Sebuah Solusi atas Penyalahgunaan Lahan Sawit


Lima ribu tahun yang lalu, ketika peradaban dunia masih primitif, manusia sudah menggunakan minyak sawit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sampai saat ini pun, manusia tidak dapat lepas dari kebutuhannya terhadap minyak sawit, bahkan minyak ini merupakan salah satu minyak yang paling banyak dikonsumsi dan diproduksi di dunia. Hal ini antara lain disebabkan oleh harga yang murah, kemudahan dalam memproduksinya, dan sifatnya yang stabil untuk dijadikan bahan makanan, kosmetik, produk kebersihan, obat-obatan, bahkan untuk sumber bahan bakar.

Di dunia, total produksi minyak sawit pada tahun 2014 diperkirakan mencapai 60 juta ton dan akan terus meningkat secara signifikan seiring dengan kenaikan permintaan. Bahkan, pada tahun 2020, produksi minyak sawit di dunia diperkirakan dapat mencapai 78 juta ton. Dari angka sebesar itu, Indonesia merupakan produsen utama yang berkontribusi sebanyak 53% dari total produksi saat ini sebagaimana kelapa sawit memang merupakan ekspor terbesar dan produk pertanian tersukses setelah padi.



  
Sumber: http://worldgrowth.org


World Growth (2009) mencatat bahwa perluasan industri, khususnya industri minyak sawit, merupakan sumber yang berpengaruh besar pada penurunan angka kemiskinan Indonesia melalui budidaya pertanian dan proses-proses selanjutnya. Selain itu, industri ini dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi lebih dari 6 juta jiwa di berbagai wilayah dan memberikan pendapatan pasti bagi para petani kecil. Dalam utilitas lahan, kelapa sawit memberikan hasil tertinggi dibandingkan minyak nabati lainnya yaitu 5 ton per hektare per tahun.

Industri pengolahan kelapa sawit jelas menguntungkan bagi Indonesia bila dilihat dari segi sosial dan ekonomi, namun bagaimana bila dilihat dari segi lingkungan? Permintaan yang kian bertambah pada kelapa sawit memacu perusahaan untuk terus meningkatkan produksinya hingga sampai pada satu titik keprihatinan akan dampak terhadap alam yang tiada hentinya dieksploitasi. Meningkatnya produksi kelapa sawit dunia, terutama di Indonesia, turut menarik perhatian sejumlah LSM besar, seperti Greenpeace dan WWF yang menentang penggundulan hutan, kebakaran hutan, penyusutan keanekaragaman hayati, dan emisi CO2.

Efek dari eksploitasi besar-besaran terhadap alam dapat dirasakan dampaknya bagi Indonesia khususnya di wilayah-wilayah penghasil kelapa sawit seperti Sumatera dan Kalimantan yang kini tertutup kabut asap. Hal ini juga menarik perhatian dunia internasional karena asap yang menyebar sampai ke Malaysia dan Singapura, juga dikeluhkan seluruh dunia karena kebakaran hutan Indonesia memengaruhi emisi karbon dunia hingga 20% lebih. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa jumlah titik api di seluruh Indonesia saat ini meningkat drastis menjadi 3.226 titik sampai ke Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.




Sumber: Walhi


Pembukaan lahan dengan pembakaran jelas dilarang di Indonesia namun banyak perusahaan penghasil kelapa sawit yang melanggar peraturan demi keuntungan perusahaan semata tanpa menghiraukan dampak luas yang dapat ditimbulkan. Yang paling memilukan adalah kebakaran hutan yang baru-baru ini terjadi di dekat pusat rehabilitasi orangutan, Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah yang merupakan wilayah yang dilindungi. Kejadian ini mengancam nyawa ratusan orangutan yang kini jumlahnya semakin sedikit dan laju deforestrasi yang tidak terbendung dapat menyebabkan kepunahan terhadap spesies ini.



Sumber: BOS Foundation


Peristiwa yang tidak kalah memilukan adalah amukan dari kawanan gajah Sumatera akibat kebakaran di hutan habitat mereka yang dilakukan para perambah di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. Kawanan gajah ini dipaksa keluar dari habitatnya di hutan karena api dan asap yang sudah merambat kemana-mana. "Selama tiga hari kami memadamkan kebakaran selalu bertemu kawanan gajah liar. Mereka mengamuk, mengeluarkan teriakan-teriakan keras. Ini membuat proses pemadaman kebakaran sangat rawan," kata Komandan Regu Konstrad Sersan, Dian Syaifullah.

Ketika mencari siapa pihak yang terlibat dan harus bertanggung jawab atas kejadian ini, dengan jelas kita dapat menunjuk para pengusaha nakal dan pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Ketidakseriusan pemerintah dalam membuat peraturan tegas terkait lahan dan pelestarian alam membuat para pengusaha leluasa melakukan tindak sewenang-wenang terhadap hutan yang memberikan kerugian besar bagi alam dan masyarakat. Namun, apakah kita sebagai konsumen benar-benar tidak memiliki andil dalam kerusakan dan pembakaran hutan?

Sebagaimana kita ketahui, para pengusaha melakukan segala cara dalam proses produksi minyak sawit semata-mata untuk memenuhi kebutuan konsumen yang memang terus meningkat. Dengan membeli produk hasil olahan sawit, kita sebagai konsumen tentu memiliki tanggung jawab dan peran yang kuat dalam menanggulangi masalah penyalahgunaan lahan ini. Selain melakukan penghematan terhadap kebutuhan kita akan produk olahan kelapa sawit, konsumen juga perlu lebih bijak dan cerdas dalam mengenal dan memilih produk minyak sawit mana yang layak beli.

Suatu asosiasi internasional yang terdiri dari LSM dan sektor lain terkait industri kelapa sawit bernama Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) menginisasi suatu implementasi standar global untuk produksi kelapa sawit. Tercantumnya label RSPO pada produk hasil olahan kelapa sawit menandakan bahwa produk tersebut telah lolos standar produksi termasuk tidak melakukan tindak penyalahgunaan lahan dalam proses produksinya. Dengan pengetahuan ini, kita sebagai konsumen memiliki kekuatan untuk bertindak dengan bijak dan cerdas dalam memilih dan membeli produk hasil olahan minyak sawit dengan label RSPO.


 
Ilustrasi produk berlabel RSPO


Sayangnya, masih sangat banyak konsumen yang tidak memiliki pengetahuan tentang label RSPO untuk produk hasil olahan sawit ini. Oleh karena itu, para konsumen yang telah memiliki kesadaran tentang ini, seharusnya dapat berperan dalam menyuarakan dan mensosialisasikan produk hasil olahan kelapa sawit berlabel RSPO. Selain sosialisasi melalui mouth to mouth, dengan kemudahan komunikasi yang ada saat ini, semua orang dapat dengan mudah berkampanye dengan cara menyebarkan isu ini di media sosial atau instant messaging.

Namun kendalanya masih banyak produsen, bahkan produsen dengan nama besar, yang belum mencantumkan label RSPO pada produk hasil olahan kelapa sawitnya. Konsumen tentu akan kesulitan dalam mencari produk hasil olahan sawit yang baik dan layak beli di pasaran. Oleh karenanya, kita sebagai konsumen harus turut bersuara dan mendesak para produsen untuk mencantumkan label RSPO tersebut dengan cara melakukan kampanye di media apa pun, sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita.

Apabila dilakukan secara besar-besaran dan bersama-sama, kita sebagai konsumen pun dapat melakukan perubahan besar terkait penyalahgunaan lahan dan hutan untuk produksi kelapa sawit. Jangan sampai kita hanya geram dan kesal sendiri terhadap pemerintah dan pengusaha nakal akibat kerusakan alam dan kondisi warga yang kesulitan bernafas tanpa melakukan tindakan apa pun yang berdampak positif. Dengan membeli produk olahan sawit secara bijak serta bersuara dan mensosialisasikannya, kita dapat mengurangi penderitaan alam akibat eskploitasi sekaligus memberikan kesejukan atas sesaknya nafas saudara-saudara kita di Sumatera dan Kalimantan.


Referensi:

Minggu, 07 Juni 2015

Review Tugas 10 Mata Kuliah Manajemen Sistem Informasi

Pada tugas 10, saya diminta untuk membuat database dari Jasa Sewa Telepon Satelit dengan tabel Database Perusahaan Penyewa serta Database Telepon dan Biaya. Saya diminta untuk membuat database ini di Microsoft Access dengan membuat keseluruhan data di Microsoft Excel terlebih dahulu. Jumlah Database Perusahaan Penyewa harus berjumlah 300, dan jumlah pada tabel lainnya bebas. Selain itu, saya juga diminta untuk membuat pertanyaan sejumlah 200 pertanyaan yang harus bisa dijawab di Microsoft Access menggunakan fungsi query. Pertanyaan ini dibuat di Microsoft Excel.

Review Tugas 9 Mata Kuliah Manajemen Sistem Informasi

Pada tugas kesembilan ini, saya diminta untuk membuat database dari penghuni asrama dengan menggunakan Microsoft Access yang terlebih dahulu dibuat data lengkapnya di Microsoft Excel. Tabel yang terdapat di Microsoft Access ini antara lain tabel Database Penghuni Asrama, Gedung dan Kamar, serta Pembayaran. Database penghuni berjumlah 100 data. Selain itu, saya juga diminta untuk membuat daftar pertanyaan yang jawabannya dapat dicari di Microsoft Access dengan menggunakan fungsi query. Daftar pertanyaan dibuat di Microsoft Excel dan berjumlah 200 pertanyaan.

Review Tugas 8 Mata Kuliah Manajemen Sistem Informasi

Pada tugas kedelapan, saya diminta untuk membuat terjemahan jurnal dengan Microsoft Word, presentasi dengan Microsoft Powerpoint, dan mind map dengan MindManager X5. Jurnal yang saya ulas berjudul "Geocoding Data Analysis and Processing in Relational Databases". Berikut adalah reviewnya:



Data geocoding secara luas digunakan dalam aplikasi untuk mendukung lokasi geografis dan menghitung hubungan spasial, seperti jarak. Ini adalah praktik umum untuk menangkap data geospasial dalam sistem manajemen database relasional (RDBMS), di mana sebagian besar data bisnis disimpan dan diolah. Namun, RDBMS dunia kurang mampu menganalisis geocoding dan aplikasi pengolahan telah mencegah penanganan dari data spasial efektif. Database relasional harus mendukung analisis data geocoding dan pengolahan, seperti geocoding menyortir data, pencarian, geo-positioning, dan komputasi jarak. Persyaratan lebih maju dapat mencakup analisis daerah berdasarkan geo-lokasi dan cakupan wilayah dari geo-lokasi. Tulisan ini memberikan analisis terhadap beberapa persyaratan pada pengolahan data geocoding di RDBMS dari perspektif aplikasi bisnis. Tantangan dalam desain dan implementasi akan dibahas. Persyaratan akan lebih ditransformasikan ke permodelan, analisis, dan pengolahan pada dukungan geocoding dalam database relasional. Ketika volume database meningkat, masalah kinerja perlu ditangani dalam rangka memberikan permintaan data yang efisien dan data pengolahan. Objek database, seperti tabel tambahan, pandangan, dan indeks, dapat dirancang untuk memberikan peningkatan kinerja.
Sistem database relasional dirancang untuk mendukung model data relasional melalui penegakan baik entitas maupun integritas referensial. Database relasional telah menjadi pilihan yang dominan untuk menyimpan pengolahan informasi bisnis. Sebagai bagian dari informasi bisnis, alamat lokasi, serta koordinat geocoding, harus diproses oleh database relasional. Oleh karena itu, dukungan pengolahan data spasial di database relasional merupakan daerah penting yang berkontribusi pada keberhasilan aplikasi database. Pendekatan itu dalam analisis data geocoding dan pengolahan yang dibahas dalam makalah ini merupakan upaya menuju arah ini. Desain dan implementasi telah diuji terhadap kebutuhan bisnis di dunia nyata dan kemauan ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan bisnis berkembang lebih lanjut.
 Berikut adalah mind map dari jurnal: